Terjemahan dari Kitab Alqalbul Mustarsyadu. Ditulis dalam huruf arab Kufi dan Bahasa Arab

Diterjemahkan dan diberi Syarah oleh :Pimp. Ponpes Dzikir. Alfath : Prof.DR.KH M.Fajar Laksana.,SE.,CQM.,MM.,Ph.D

Berikut terjemahannya :

Assalamu’alaikum .Wr.Wb.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik,yaitu Idul fitri dan Idul Adha.
(Ini riwayat hadits dan Ahmad).

Hari Raya Idul Fitri tidak hanya menjadi sarana bagi umat Islam untuk berkumpul bersama, tapi juga untuk membantu meringankan kebutuhan orang miskin, Nabi Muhammad ingin agar umat Islam berbagi suka dan duka pada saat Idul Fitri. Beliau juga memerintahkan agar umat Islam saling membantu setiap saat, tidak hanya di Hari Idul Fitri.
Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, Rasulullah selalu mengerjakan Sholat Idul Fitri dan memerintahkan kepada umatnya, baik laki-laki maupun perempuan untuk menghadiri pelaksanaan sholat Idul Fitri. Hukum sholat ini adalah sunnah muakkad.
Sebelum berangkat, Rasulullah mandi dan memakai baju yang paling bagus meski tidak baru,
Beliau juga memerintahkan hal yang sama kepada umatnya untuk mengenakan pakaian terbagus dan wangi-wangian yang terbaik. Bagi Muslimah, pemakaian wewangian sebaiknya tidak berlebihan, sehingga tidak terjerembab ke dalam perbuatan dosa.
Sebelum berangkat, Rasululah tak lupa makan terlebih dahulu. Saat Idul Fitri di pagi hari Rasul terbiasa memakan beberapa biji kurma dengan jumlah ganjil.
hendaknya para suami berangkat bersama istri dan anak-anaknya ke tanah lapang sambil bertakbir dan kaum perempuan pada masanya diperintahkan keluar rumah pada hari raya juga mengajak perempuan yang haid di mana mereka berada di belakang orang-orang yang sholat berbeda dengan sholat berjamaah lainnya, Sholat Idul Fitri dilakukan oleh Rasulullah di tempat terbuka di luar masjid. Ini dilakukan selagi tidak ada halangan untuk melaksanakannya di luar masjid.
Rasul sholat di luar masjid bukan di dalam, sholat di halaman agar syiar beliau sampai kepada jamaah yang juga berhalangan sholat seperti ibu-ibu nifas dan haid
sholat Idul Fitri lebih utama dilakukan di lapangan. Boleh digelar di dalam masjid, dengan catatan karena ada halangan, seperti hujan atau bentuk halangan lainnya.
Anjuran untuk hadir saat sholat Idul Fitri memang merupakan perintah Rasulullah, baik anak-anak, wanita, gadis, janda, remaja maupun yang sudah tua untuk datang. Karena di hari itu terdapat kebaikan dan doa dari kaum Muslimin. 
Setelah Rasulullah melaksanakan sholat dan berkhutbah, biasanya beliau akan mengunjungi tempat kaum wanita, lalu mengajarkan ilmu dan menasehati mereka. Kemudian memerintahkan mereka untuk mengeluarkan sedekah. apakah itu merupakan zakat fitrah? dan dijawab bukan, melainkan sedekah pada hari tersebut. 

Syarah/Penjelasan :

A. Hadits 2 Hari Raya Terbaik Diantara Hari Hari Lainnya

dari Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan. Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3).

B. Hadits Hukum Sholat Idul Idul Fitri dan Idul Adha

Hukum mengerjakan salat Idul FitriMeskipun salat Idul Fitri termasuk sholat sunnah,tapi sangat dikuatkan untuk dilaksanakan maka hukum nya Sunnah Muakad.
Berikut adalah beberapa dalil tentang salat Idul Fitri.

أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ

Artinya:Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat sholat ‘ied agar mengeluarkan para gadis yang beanjak dewasa dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat sholat.”

C. Persiapan mengerjakan salat Idul Fitri

1) Mandi dan mensucikan diri sebelum melaksanakan salat Idul Fitri hendaknya kita mandi dan mensucikan diri. Jangan lupa untuk berwudhu sebelum berangkat menuju tempat sholat.
2). Memakai pakaian terbaik dan Minyak Wangi.
Saat hendak melaksanakan salat Idul Fitri, sebaiknya kita menghias diri dan memakai pakaian terbaik. Pria juga dianjurkan untuk memakai wangi-wangian. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika sholat Idul Fitri dan Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.

3).Makan terlebih dahulu sebelum mengerjakan salat Idul Fitri. di utamakan makann
kurma minimal ganjil semisal 3 biji kurma.
Hadist Rasullullah SAW

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat sholat ‘ied pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari sholat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.

4). Berjalan kaki dan menempuh jalan yang berlainan
Hadist yang diriwayatkan oleh ibnu Jabir :

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang“

5).Melafalkan takbirSaat sebelum melaksanakan salat Id sebaiknya kita melafalkan kalimat takbir kepada Allah SWT sebagai tanda bahwa kita gembira menyambut hari raya idul fitri.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahi ilhamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)“.

6).Shalat Idul fitri dan idul adha diutamakan dilapangan untuk Syiar.

D. Tata cara sholat Idul Fitri.

  1. Sebelum salat Ied, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih.
  2. Salat Ied dimulai dengan menyeru “ash-shalâtu jâmi‘ah” yang artinya “Salat jama’ah akan segera didirikan. Selain itu, salat Ied dilaksanakan tanpa didahuli azan dan iqamah.
  3. Membaca niat salat Idulfitri

أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًاإِمَامًا) لِلهِ تَعَــــالَى

Bacaan latinnya: “Ushallii sunnatan lii’idil fitri rak’ataini [imaaman / makmuuman] lillahi ta’aala”

Artinya: “Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”

Jika salat Idulfitri dikerjakan sendirian (Karena ada alasan Syari ) maka bacaan niatnya adalah sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُنْفرِدا لِلهِ تَعَــــالَى

Bacaan latinnya: “Ushallii sunnatan lii’idil fitri rak’ataini munfaridan lillahi taa’ala”

Artinya: Saya berniat salat sunah Idulfitri dua rakat sendirian karena Allah Ta’ala.

  1. Membaca takbiratul ihram (الله أكبر/Allahu Akbar) sambil mengangkat kedua tangan.
  2. Tujuh takbir pada rakaat pertama
    Pada rakaat pertama salat ied, setelah membaca doa iftitah, dilanjutkan dengan membaca takbir lagi sebanyak tujuh kali. Takbir sebanyak tujuh kali tersebut diucapkan sambil mengangkat tangan.

Di sela-sela setiap dari tujuh takbir itu dianjurkan membaca doa di antara takbir atas.

  1. Membaca Surah Al-Fatihah

Setelah takbir tujuh kali, kemudian membaca surah Al-Fatihah sebagai rukun salat. Setelah itu membaca Surat dalam alquran.

  1. Kemudian dilanjutkan dengan ruku’, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, seperti salat biasa.
  2. Lalu, berdiri kembali untuk melaksanakan rakaat kedua.
  3. Lima takbir pada rakaat kedua

Selepas berdiri lagi pada rakaat kedua, membaca takbir lagi sebanyak 5 kali sambil mengangkat tangan seperti sebelumnya. Kelima takbir itu di luar takbir saat berdiri pada rakaat kedua (takbir qiyam).

Di sela-sela setiap dari lima takbir itu dianjurkan membaca doa di antara takbir di atas.

  1. Setelah lima takbir, membaca surah Al-Fatihah, dan kemudian surat dalam alquran.
  2. Kemudian dilanjutkan dengan rukuk, Iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, duduk tasyahud akhir dan salam.
  3. Setelah salat, mendengarkan khutbah Idulfitri

Usai salat Idulfitri, khatib membacakan khutbah hari raya dan jamaah sebaiknya mendengarkan dengan khusuk.

Sedangkan apabila jumlah jamaah kurang dari empat orang atau jika dalam pelaksanaan salat Id berjamaah di rumah tidak ada yang berkemampuan untuk khutbah, salat Idulfitri boleh dilakukan tanpa khutbah.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Cara Melaksanakan Hari Raya Idul Fitri Menurut Sunah Nabi Saw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *